Group Tari Saman Kodim 0113/Galus, Akan Tampil Kegiatan Safari Ramadhan Panglima TNI di Banda Aceh

Oleh
WhatsApp Image 2017-05-28 at 14.37.31 (1)

Gayo Lues – Grup tari saman Kodim 0113 Gayo Lues (Galus), akan tampil pada 30 Mei 2017 mendatang di Kodam Iskandar Muda, dalam rangka menyambut dan ikut memeriahkan Safari Ramadhan yang dilakukan Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo bersama prajurit Kodam IM serta Pemerintah Aceh.

“Saat ini grup tari saman Kodim 0113/Galus, yang memiliki penari para prajurit TNI AD ini, terus melakukan latihan, guna memantapkan penampilan dalam mengisi kegiatan safari ramadhan yang dilakukan Panglima TNI di Kodam IM,” tutur Dandim 0113 Gayo Lues, Letkol Inf Muhammad Faizal Nasution S.IP Minggu (28/5/2017).

Dikatakannya, grup tari saman Kodim Gayo Lues ini berawal dari binaan Dandim yang ketiga yaitu, Letkol Kav Rusdi S.IP (Kapendam IM sekarang),  yang pada saat itu di tampilkan pada saat acara Pembukaan TMMD tahun 2010 di Kecamatan Rikit Gaib. “Namun, Alhamdulillah hingga saat ini tari saman binaan Kodim ini terus aktif dan tumbuh,” sampai dengan Dandim sekarang.

Bahkan sambungnya, group saman Kodim ini kerap mengisi acara HUT TNI, kegiatan Pemkab Gayo Lues serta pernah tampil di HUT Kodam IM tahun 2015 lalu, sampai Dandim sembari menambahkan, Group saman Kodim 0113 ini bukan hanya berisikan para personil TNI AD yang bersuku Gayo, akan tetapi berbaur dengan suku lainnya, seperti suku Jawa, Batak, Padang, Aceh dan sebagainya.

Tari Saman merupakan warisan Leluhur, dimana hampir seluruh masyarakat Gayo Lues bisa melakukannya termasuk prajurit TNI yang berdinas di Gayo Lues. Walau mereka berasal dari berbagai suku tetapi Tari Saman ini mampu mereka kuasai. Di Kabupaten Gayo Lues pernah mencatat sebanyak 5001 penari Saman yang dilakukan secara bersama-sama dan rencana tahun ini akan memecahkan rekor muri kembali dengan 10.001 penari saman termasuk prajurit TNI.

Sebagai Pembina Tari Saman Bapak Bupati H. Ibnu Hasyim selalu mendukung kelestarian budaya kebanggaan Gayo Lues, demikian pula halnya, Dandim 0113/Gayo Lues mulai awal berdirinya Kodim selalu berperan dalam pengembangan tari Saman dengan membentuk sanggar tari yang setiap kegiatan menampilkan Tari Saman ini.

Pada kesempatan Silaturahmi dan Safari Ramadhan Panglima TNI ke Kodam IM tahun 2017 ini, suatu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Gayo Lues dimana prajurit Kodim 0113/Gayo Lues akan tampil mengisi acara.

Harapan masyarakat budaya yang menjadi warisan leluhur ini akan semakin dikenal di dunia Internasional. Ada yang menarik dari penampilan tari saman nanti, dimana personil yang terlibat seluruhnya anggota babinsa yang memiliki latarbelakang suku dan budaya yang berbeda, tetapi mereka sangat terampil dan sering tampil pada setiap event kegiatan di Kabupaten Gayolues dan daerah lainnya.

Semoga penampilan prajurit kodim Gayo Lues ini bisa diikuti oleh prajurit lainnya dalam membantu mengembangkan seni budaya dan kearifan lokal sehingga kemanunggalan TNI dengan rakyat makin dekat dan kuat dengan selalu mencintai dan dicintai rakyat.

Sejarah singkat Tari Saman Gayo Lues

Tari Saman adalah tarian asli suku Gayo (Gayo Lues) yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat istiadat suku Gayo. Bahkan syair yang diperdengarkan, memakai dua bahasa, yaitu bahasa Arab dan bahasa Gayo.

Dalam beberapa literatur menyebutkan, tari Saman Gayo Lues ini diciptakan dan dikembangkan oleh seorang ulama Aceh yang berasal dari dataran tinggi Gayo, Syeh Saman. Akan tetapi masalah ini terus terjadi perdebatan.

Awalnya, tarian saman hanyalah berupa permainan rakyat, akan tetapi, karena ditambahkan iringan syair - syair yang berisi pujian kepada Allah SWT serta diiringi pula kombinasi tepukan - tepukan tangan dan dada para penari, membuat tari saman saat itu menjadi salah satu media dakwah.

Apalagi, Tari Saman ditampilkan tidak menggunakan iringan alat musik, tetapi hanya menggunakan suara dan tepuk tangan para penari saman, yang biasanya dikombinasikan dengan memukul dada dan pangkal paha mereka, sebagai sinkronisasi dan menghempaskan badan ke berbagai arah. Kerasnya tarian ini membuat wanita dilarang dan tabu bagi suku Gayo memainkan tarian ini.

Tarian ini juga dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut (penangkat). Pasalnya, keseragaman formasi dan ketepatan waktu adalah suatu keharusan dalam menampilkan tarian ini. Oleh sebab itu para penari dituntut untuk memiliki konsentrasi yang tinggi dan latihan yang serius, agar dapat tampil dengan sempurna.

Namun demikian, Tari Saman yang disebut tari tangan seribu bayangan oleh ibu Tien Soeharto dimasa hidupnya itu, telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda, di Bali pada 24 November 2011 lalu.

Komentar

Loading...